Saat bayi usia 6 bulan sudah masuk fase pemberian MPASI, Ayah Bunda harus mengenal aturan-aturan makan untuk membantu meminimalkan masalah makan pada anak di masa mendatang. Berikut adalah aturan makan untuk bayi di masa MPASI yang harus diperhatikan:

Biasakan Makan dalam Posisi Duduk

Anak sebaiknya belajar makan dalam posisi duduk untuk keamanan dan keselamatan proses makan. Posisi duduk adalah posisi optimal agar anak tidak tersedak, muntah, dan proses mencerna makanan dari mulut, lambung, dan usus dapat terjadi dengan sempurna.

Para Ayah Bunda bisa mempersiapkan kursi bantuan untuk anak, seperti booster seat atau high chair. Jika anak belum dapat duduk tegak, Ayah Bunda bisa memberikan bantuan penyangga seperti bantal di bagian belakang dan samping kursi. Jika menggunakan high chair, pastikan anak tidak duduk dalam posisi kaki menggantung, sehingga Ayah Bunda bisa menggunakan bantuan papan pijakan kaki.

Karena saat makan ada lebih dari 40 otot pada anak yang sedang bekerja, posisi duduk yang nyaman akan membantu proses makan sang anak agar tidak mudah merasa lelah.

Tidak Menggunakan Gadget/TV saat Makan

Hal yang sering menjadi kesalahan dalam pemberian MPASI adalah makan dengan distraksi seperti menonton TV atau bermain gadget. Sebaiknya ini dihindari karena mendistraksi fokus anak terhadap makanan yang dimakan. Apa yang terjadi saat anak makan sambil menonton/bermain?

Otak anak tidak fokus mengenal makanannya, sehingga tidak sadar terhadap apa yang dimakan, berapa jumlahnya, dan lama kelamaan sang anak tidak terbiasa mengenal sinyal lapar maupun kenyang. Jika diabaikan, masalah pemberian screen/gadget/TV saat makan ini dapat menyebabkan masalah seperti obesitas, tantrum berlebih, atau justru menjadi sulit makan.

Waktu Makan Maksimal 30 Menit

Makan Dengan Disiplin Waktu
Makan Dengan Disiplin Waktu

Durasi pemberian makan pada anak, habis tidak habis adalah maksimal 30 menit. Setelah 30 menit berakhir, Ayah Bunda harus akhiri proses makan. Hal ini dilakukan untuk melatih anak menghargai waktu makan, fokus menyelesaikannya dalam waktu maksimal 30 menit.

Sementara itu, fokus anak pada usia 0-2 tahun sangat singkat. Ia akan lelah dan bosan jika harus bertahan duduk selama lebih dari 30 menit. Jika target makan belum habis, Ayah Bunda bisa berikan kembali di waktu makan berikutnya.

Atur Jadwal Makan dengan Disiplin

Untuk memulai pemberian MPASI, Ayah Bunda harus mengatur jadwal makan dengan disiplin dan tentukan frekuensi makan sesuai usia mereka. Hal ini dilakukan untuk mengajari anak mengenal rasa lapar dan kenyang. Beri jeda 2-3 jam antar makan. Selama jeda tersebut, jangan berikan asupan apapun (termasuk ASI), hanya boleh memberikan air putih. Jika pada waktu makan, anak hanya makan 2-3 suap atau bertahan kurang dari 5 menit, maka coba tawarkan makanan kembali setelah 15 menit.

Frekuensi makan juga perlu diperhatikan. Untuk pengenalan MPASI, frekuensi makan dapat dimulai dengan 2x makan utama, lalu naik menjadi 2x makan utama 1x snack, lalu naik menjadi 3x makan utama 1x snack, hingga naik menjadi 3x makan utama dan 2x snack dalam sehari.

Contoh jadwal makan bayi usia 6 bulan (naik bertahap sesuai kebutuhan frekuensi hingga 24 bulan):

  • 06.00 ASI
  • 08.00 Sarapan (Makan utama)
  • 10.00 ASI/Snack
  • 12.00 ASI/Makan siang
  • 14.00 ASI/Snack
  • 16.00 Makan sore (Makan utama)
  • 18.00-sepanjang malam ASI

Untuk bayi usia 6-8 bulan, pemenuhan nutrisi dari MPASi hanya 30%, dan 70%nya masih dari ASI. Untuk bayi 9-11 bulan, pemenuhan nutrisi MPASI: ASI perbandingannya 50%:50%. Untuk bayi 12-24bulan, pemenuhan nutrisi MPASI:ASI perbandingannya 70%:30%.

Lakukan Pemberian Makan dengan Responsif

Ayah Bunda perlu memberikan MPASI secara responsif (responsive feeding), artinya tanggap terhadap kondisi dan tanda-tanda yang anak berikan, lalu berikan respon yang dibutuhkan oleh anak.

Mengajari Responsive Feeding Pada Anak
Mengajari Responsive Feeding Pada Anak

Sebagai contoh, anak terlihat lahap saat diberikan makanan gurih, maka Ayah Bunda siapkan menu makanan yang gurih dan lezat agar anak suka. Contoh lainnya, Ayah Bunda perlu mengenal tanda anak selesai makan. Jika terlihat sudah memalingkan wajah, menutup mulut, berusaha keluar dari kursi, Ayah Bunda dapat menyelesaikan sesi makan. Artinya anak sudah kenyang dan tidak mau makan lagi.

Kenali pula tanda-tanda tumbuh gigi pada anak yang seringkali menjadi penyebab gerakan tutup mulut (GTM), seperti banyak mengeluarkan air liur (drooling), ingin menggigit-gigit, sering rewel, terkadang demam. Saat tumbuh gigi, anak sering merasa tidak nyaman di area mulut, maka jangan paksa anak menghabiskan makanan yang disediakan. Seringkali saat tumbuh gigi, anak ingin makanan yang lembut, mudah ditelan, disedot, dihisap, dan juga suka makanan dingin.

Dalam mendampingi proses makan, Ayah Bunda harus sabar karena tidak setiap kali makan, anak akan menghabiskan porsi yang disiapkan. Fokus Ayah Bunda hanya menyediakan makanan sesuai nutrisi dan porsi yang seharusnya, anak yang menentukan seberapa banyak yang akan dimakan. Berilah apresiasi setiap anak mau makan dan jangan memarahi jika anak tidak mau makan.

Tekstur dan Jumlah Makanan sesuai Usia

Tekstur Mpasi Menyesuaikan Usia Anak
Tekstur Mpasi Menyesuaikan Usia Anak

Pemberian MPASI juga dilakukan sesuai tekstur kesanggupan usia anak. Berikut tabel tekstur MPASI anak sesuai usia agar Ayah Bunda bisa menyajikan MPASI yang sesuai dengan kemampuan oromotor anak.

Usia /Tekstur:

  • 6-8bulan/bubur saring lumat
  • 9-11bulan/cincang halus dan kasar
  • 12-24bulan/makanan keluarga

Selain itu, Ayah Bunda perlu memperhatikan porsi MPASI yang diberikan agar dapat memenuhi kebutuhan kalori dan nutrisi harian anak. Pengenalan MPASI (6 bulan) dimulai dengan memberikan 2-3 sdm dewasa per kali makan, naik bertahap hingga 125 ml per kali makan, naik bertahap hingga 250 ml per kali makan pada usia 12 bulan.

Untuk info MPASI lebih lanjut, Ayah Bunda bisa mengunduh buku panduan MPASI dari Ikatan Dokter Anak Indonesia di sini.

Selamat mendampingi MPASI anak-anak, ya, Ayah Bunda!