Speech delay atau keterlambatan bicara adalah suatu kondisi di mana seorang anak belum mencapai target perkembangan bahasanya sesuai usia. Ada banyak faktor mengapa speech delay dapat terjadi pada anak, antara lain:

  1. Gangguan oromotor (otot-otot disekitar rahang mulut dan lidah)
  2. Kurangnya stimulasi bahasa sejak dini
  3. Gangguan pendengaran
  4. Lingkungan multilingual
  5. Gangguan saraf terkait perkembangan otak untuk bicara dan bahasa

Tahapan Bicara Bayi 0-24 Bulan

Skrining tumbuh kembang khususnya perkembangan bicara dan bahasa dapat dilakukan oleh para ahli. Para orang tua juga dapat mewaspadai sejak dini tanda-tanda gangguan perkembangan bahasa yaitu:

  1. Umur 0-3 bulan tidak coo-ing (mengeluarkan bunyi vokal)
  2. Umur 3-6 tidak berekspresi ketika diajak bermain
  3. Umur 6 bulan tidak menoleh ketika dipanggil
  4. Umur 6-9 bulan tidak babbling (mengeluarkan bunyi konsonan-vokal seperti “mamamma”, “bababa”, “dadadada”, “papapa”)
  5. Umur 12-15 bulan tidak dapat mengucapkan mama atau papa yang berarti
  6. Umur 16 bulan tidak mengucapkan 1 kata berarti
  7. Umur 18 bulan tidak memahami instruksi sederhana
  8. Umur 24 bulan tidak dapat merangkai 2 kata (contoh “mau makan”, “mama pergi”, “papa kerja”)
  9. Umur 3 tahun tidak dapat merangkai 3 kata
  10. Umur 4-5tahun tidak dapat bercerita sederhana

Standar Perkembangan Anak Usia 2 Tahun

Sementara itu, lonjakan perkembangan bahasa terjadi pada anak usia 2 tahun. Perkembangan yang harus dicapai antara lain:

  1. Mampu menunjuk 5 bagian tubuh
  2. Merespon dengan mengangguk atau menggeleng pertanda iya atau tidak
  3. Mengikuti 2 instruksi (contoh: ambil bajumu, simpan di keranjang)
  4. Mengerti sekitar 300 kata
  5. Menyebutkan minimal 50 kata dan menamai benda yang dikenal
  6. Merangkai kalimat yang terdiri dari 2 kata (contoh: “Ibu masak”, “Ayah kantor” (maksudnya ayah pergi ke kantor)
  7. Dapat bermain pura-pura/role play

4 Tahapan Komunikasi Anak

Untuk dapat sampai pada tahap berbicara, seorang anak akan melewati beberapa tahapan awal dari komunikasi dan berbahasa. Para orang tua harus mengetahui 4 tahapan komunikasi anak agar bisa mendampingi perkembangan bahasa sang anak dengan optimal.

4 tahapan komunikasi pada anak (disarikan dari buku “It takes two to talk” oleh Elaine Weitzman)

Discoverer / Merespon Lingkungan

Tahap discoverer adalah saat anak bereaksi terhadap apa yang mereka rasakan dan terhadap apa yang terjadi pada lingkungan sekitarnya, namun belum dapat merespon dengan berbicara.
Contoh:

  • Anak mengenali pola ibu akan menggendong dan memberi susu, ia akan berjalan mendekat
  • Anak menoleh saat dipanggil
  • Anak menangis saat kondisi lingkungan tidak nyaman

Communicator / Komunikasi Sederhana

Tahap communicator adalah tahap perkembangan bahasa reseptif, yaitu anak memahami instruksi spesifik sederhana yang diberikan padanya dan merespon tanpa menggunakan kata
Contoh:

  • Anak melambaikan tangan ketika mendengar instruksi “dadah…” “bye-bye”
  • Anak menunjuk benda/gambar yang ditanyakan, seperti menunjuk lampu ketika mendengar pertanyaan “mana lampu?”
  • Anak tepuk tangan saat dinyanyikan “pok ame-ame”
  • Anak mengambil boneka saat ditanya “Di mana ya bonekanya?”

First Word User / Kata Pertama

Membiasakan berbicara dengan penekanan pada anak
Mengeluarkan kata pertama penting untuk anak

Tahap first word user adalah tahap awal perkembangan bahasa ekspresif, di mana sang anak mulai dapat menyebutkan satu kata untuk menggambarkan sesuatu.

Contoh:

  • Mengatakan “Mama” sambil menunjuk kursi, yang bisa berarti “Ini kursi Mama”, “Mama, duduk di sini”
  • Mengatakan “Hujan”, sambil melihat ke langit, yang bisa memiliki banyak arti “Hujan turun dari langir”, “Di mana hujan? Kok tidak ada hujan”

Pada beberapa anak, kata pertamanya seringkali tersebut hanya ujung belakangnya saja. Seperti mobil dikatakan “biil”, rumput dikatakan “puuut”, makan dikatakan “kaan”. Namun jangan khawatir, usaha anak untuk berbicara di atas juga tetap dihitung 1 kata dan para orang tua bisa lanjutkan untuk menstimulasi perkembangan bahasanya.

Combiner / Kombinasi Kata

Tahap combiner adalah tahap di mana anak mulai bisa merangkai dua kata atau lebih yang memiliki arti. Tahap ini dapat menuntun perkembangan bahasa anak ke tahap bicara yang lebih kompleks.
Contoh:

  • Anak hendak makan dan mengatakan “Aku makan” atau “Aku mau makan”
  • Anak memberitahukan ada kucing berwarna putih sedang tidur, ia mengatakan “Kucing putih”, “kucing tidur”, atau “kucing putih tidur”

Cara Mudah Mengatasi Speech Delay

Tips bagi para orang tua untuk mendampingi perkembangan bahasa dan berbicara pada anak menggunakan METODE 4S:

  • SAY LESS / Cukup 1 Kata

    Mulailah dengan mengajarkan 1 kata, kalimat pendek dan sederhana

  • STAND OUT / Berikan Penekanan

    Berikan tekanan pada kata-kata penting yang sedang diajarkan. Penekanan dilakukan pada seluruh suku kata, jangan hanya ujungnya saja.

    Contoh:

    DON’Ts: mo…BIL
    DOs: MO…BIL (Intonasi penekanan di seluruh kata, jangan hanya BIL saja)

    Biasanya jika hanya penekanan pada ujungnya saja, ketika anak menjadi first word user akan menyebutkan “Bil” saja saat mengatakan mobil.

  • SLOW / Lakukan Perlahan

    Bicaralah pada anak dengan perlahan. Jangan terlalu cepat, agar lebih mudah diproses dan dimengertu oleh anak.

  • SHOW / Gunakan Alat Bantu

    Gunakan alat bantu seperti gestur tubuh, gambar, atau aksi.

Selain itu, orang tua juga dapat melakukan beberapa aktivitas yang dapat membantu perkembangan bahasa dan bicara anak, antara lain:

Membiasakan berbicara dengan penekanan pada anak
Membiasakan berbicara dan bercerita pada anak
  1. Membaca buku bersama
  2. Bercerita
  3. Menamai setiap aktivitas yang sedang dilakukan sedini mungkin, misal “Mama sedang masak”, “Adik sedang mandi”, “Ayah pergi bekerja”
  4. Bernyanyi bersama
  5. Menamai setiap benda yang anak lihat

Semangat membersamai anak menguasai bahasa ya, para Ayah Bunda!