Tibalah aku di trimester ketiga kehamilan. Dengan postur tubuh sama dengan sebelum hamil. Intinya, ga hamil pun aku pernah segendut ini. 😀

Setelah urusan kampus selesai, aku mudik ke Bogor untuk persiapan persalinan. Terhitung 3 minggu menuju HPL saat itu. Waktu yang baik untuk belajar teori melahirkan dari fisik dan mental, serta latihan-latihannya. Terima kasih kepada instagram, youtube, dan buku-buku yang menjadi pustakaku menyambut kelahiran Kabay. Ada beberapa channel yang aku ikuti:

  1. @Bidankita- Instagram
  2. ‘Gentle Birth’ by Dewi Lestari dan Reza Gunawan – Youtube
  1. The Positive Birth Company (All videos) – Youtube
  2. Buku “Bebas Takut Hamil dan Melahirkan” – Bidan Yessie Aprillia
  3. Dan tentunya, saran dari dr. Arina Indriany, SPOG tercinta

Aku juga sudah mempersiapkan gym ball sebagai teman olahraga di rumah, berharap membantu merangsang kontraksi dan pembukaan.

Beberapa latihan fisik yang aku lakukan atas dasar referensi-referensi di atas:

  • senam hamil
  • jalan kaki minimal 30 menit/ minimal 2 km
  • naik turun tangga
  • bending: jongkok berdiri
  • hubungan suami-istri
  • duduk dan berolahraga di atas gymball
  • latihan bernafas

Aku mau menggarisbawahi latihan bernafas, karena sangat penting dan utama. Dari semua latihan fisik di atas, bernafas adalah yang akan digunakan sampai proses akhir persalinan.

Latihan mental juga penting dilakukan, memang disarankan untuk ikut yoga, meditasi dan lain-lain yang sejenis. Akan tetapi, aku mengganti poin ini dengan banyak mendekatkan diri kepada Allah, menyelipkan do’a kelancaran kelahiran, mengajak ngobrol Kabay di dalam perut untuk bisa bekerja sama saat persalinan nanti, meminta (kadang sampai memaksa) sang suami untuk “ngobrol” sama perut supaya dia mendengar suara abinya. Sudah di tahap bahagia menjadi orang gila; ngobrol sendiri dengan ngelus-ngelus perut.

Yap, those are Ibu’s preparation to meet you happily, Kabay.

Origami Kesan Pertama Melahirkan
Ilustrasi Kesan Melahirkan Anak Pertama

Perjalanan menyambutmu pun dimulai

22 Mei 2018

Hari perkiraan lahir Kabay adalah 30 Mei 2018. Sehingga hari ini, saat kontrol memasuki 39 minggu, aku santai-santai saja. Layaknya kontrol rutin biasa. Hari ini juga hari ke-4 aku mengajak Kabay di dalam perut untuk ikut puasa ramadan. Setelah dicek melalui USG, dokter Arina bilang, “ketubannya udah dikit, kerasa rembes ga? Udh mules-mules belum?” Jujur aku tidak tahu rasanya mules-kontraksi seperti apa. 

Gak pernah merasa ada mules (atau gak peka?), sehingga aku bilang “belum dok,” Lalu akhirnya dokter mencari diagnosis lain, “kamu puasa ya?” hehe, akhirnya aku mengaku. Dan setelah itu pun aku disuruh langsung berbuka puasa. Hue Kabay, maafkan Ibu. Kontrol hari ini juga aku dicek dalam. Ternyata… sudah bukaan 1.

Aku merasa excited bangetbanget ketika tau sudah mulai bukaan. Kita bertemu sebentar lagi, Kabay, Insya Allah. Dan alhamdulillah, dokter Arina masih pro dengan proses alami, aku diminta pulang dan mempersering melakukan latihan-latihan fisik di atas. Hueee aku semangat banget. Pulang ke rumah gak mau duduk. Langsung main gymball, naik turun tangga, jalan-jalan kaki cepat, jongkok berdiri, pokoknya di pikiranku saat itu “yes, ku bentar lagi ketemu Kabay! Aku bentar lagi jadi Ibu!

Hingga jam 11 malem, aku merasa mules dan gak bisa tidur sampai jam 3 pagi. Ke kamar mandi sudah keluar flek darah. Tapi mulesnya bisa ditahan- eh bahkan aku mempertanyakan, ini mules kontraksi atau mules karena makan pedes? :”) wkwk. Besok paginya, aku ke IGD RS tempat aku berencana melahirkan untuk memastikan kondisiku.

Eh tapi kok tiba-tiba kontraksinya hilang. Sesampai di sana pun aku segar bugar. Para bidan yang jaga juga jadi meragukan, ini mah kayaknya gak gawat darurat. Wkwk, benar saja, bukaan belum nambah. Masih bukaan 1. Tapi sudah ditawarkan untuk induksi di hari itu oleh tim medisnya. Eh, dokter panutanq masih bijak, menelpon nakes* dan memintaku untuk pulang saja dulu, dikontrol lagi besok saat jadwal cek USG.

 ***

24 Mei 2018

Hari ini aku cek USG kembali di ruang dokter Arina. Ternyata… upayaku minum banyak, tidak menaikkan jumlah air ketubanku- malah makin turun. Sedikit banget. Tapi aku tak kunjung mules. Tidak merasa ada kontraksi (atau ga peka?).

Di sinilah akhirnya dr Arina bilang, “kita lahirkan sekarang ya, gausah pulang ya setelah ini, langsung masuk ruang observasi, siap kalau lahiran sekarang? kita coba normal dulu ya.

Dalam kondisi ini, akhirnya aku harus diinduksi. Dokter Arina memberikan aku obat tablet sebagai pemicu kontraksi. Dari jam 12 siang sampai jam 6 sore, aku benar-benar segar bugar, tidak merasa mules sama sekali. Bahkan aku pacu dengan jalan-jalan keliling rumah sakit, jongkok-berdiri, makan nanas, tapi tak kunjung kontraksi.

Memasuki waktu maghrib, aku mulai cemas. Sok-sok merasa-rasa ada kontraksi, eh tapi emang ga kerasa. Saat itu aku memohon kepada Allah agar kontraksi datang. Bahkan aku berdo’a “ya Allah, jika aku sanggup menahan kontraksi, berikan ya Allah”. Karena kalau air ketuban habis dan bukaanku tak kunjung berprogres, bisa dirujuk operasi sesar.

***

Paksu membantuku dengan melantunkan ayat-ayat qur’an, selagi menunggu kontraksi datang. Ba’da isya, akhirnya aku merasakan kontraksi ringan yang teratur. Alhamdulillah, saat itu ku katakan. Rasa mules akhirnya datang, dan itulah kali pertama aku mengaplikasikan teori bernafas yang ku pelajari. It does really work! Aku (dan Paksu yang juga sudah mengerti teknik bernafas) merasakan nyamannya kontraksi karena berhasil mengatur nafas.

Ya, sebenarnya kontraksinya belum hebat, makanya masih mudah fokus bernafas. Hingga jam 12 malam memasuki hari Jum’at diperiksa, aku memasuki bukaan 2. Ok, perjalanan ini masih cukup panjangDalam hati aku bertanya, apakah aku akan berhari-hari mengeram di ruangan ini sampai bukaan lengkap? Semoga saja tidak. Rasa cemas ditambah dengan suara dari bangsal sebelah yang meraung berteriak menahan kontraksi. Aku dan Paksu berusaha tenang dan tidak terpengaruh, tapi ya bagaimana…suara jeritan kesakitan orang sebelah membuatku sampai tidak bisa istirahat tidur.

Hingga subuh, terdengar suara tangis bayi dari ruang bersalin, akhirnya bayi dari Ibu di bangsal sebelah lahir. Leganya mereka telah melewati rasa sakit kontraksi dan akhirnya bisa bertemu dengan bayinya. Kami? Aku dan Paksu gak sanggup menahan haru mendengar tangisan bayi itu, jadi ikut menangis. Baper karena kontraksi masih stagnan, akhirnya Paksu membisikkan perutku dan bilang, “Cilboc*, yuk keluar hari ini… hari ini jum’at loh, hari baik, ikut Abi jum’atan yuk.. keluar yuk ketemu Abi, Ibu.

***

25 Mei 2018

Jam 7 pagi, aku dicek sudah bukaan 4. Dan setelah inilah, kontraksi “nikmat” itu datang :”) Masya Allah, baru benar-benar mengerti mengapa surga di telapak kaki Ibu, Allah Maha Besar, menciptakan wanita dengan segala kekuatannya menahan rasa sakit dahsyat, di batas antara hidup-mati. Kontraksi hebat datang, dan aku seakan diberi ujian fokus bernafas. Karena tidak semudah sebelumnya, di waktu ini, aku kewalahan menahan rasa sakit hanya dengan bernafas. Akhirnya Bu Bidan yang mengecek ke bangsalku, melihat aku bersusah payah menikmati kontraksi, beliau menyarankan “coba kalau kontraksi datang, berdiri, sambil gaya rocking“. 

Rocking adalah goyang panggul- dengan tujuan mengalihkan rasa sakit kontraksi dan mempercepat pembukaan. Kontraksi yang berlangsung selama 3 menit, dengan jeda sekitar 1 menit “istirahat”, berlangsung dari pukul 8 hingga 10 pagi. Dan selama itu pula, tiap 3 menit kontraksi datang, aku harus berdiri, menggerakkan badan, dan setiap 1 menit istirahat, aku harus makan! Untuk energi mengejan nanti, ceritanya. Dan… kurma to the rescue! Ada kalanya aku lelah mengatur gerakan, Paksu harus membantu mendorong badanku agar aku tidak diam saat kontraksi datang.

Selama 2 jam lamanya aku melakukan rocking, akhirnya aku kelelahan. Aku meminta izin kepada Bu Bidan untuk tidur sebentar. Dipersilakanlah (lebih tepatnya – kalau bisa tidur ya silakan wkwk). Nyatanya memang tidak bisa, kontraksi hebat itu kan tidak berhenti, jadi dalam kondisi aku tiduran di ranjang, tanganku menggenggam pegangan ranjang, berusaha mengalirkan rasa sakit ke tangan dan genggaman. Ya, tidak bisa benar-benar tidur.

Hingga dalam satu kesempatan… kantukku benar-benar to the fullest, tapi….eh kok tiba-tiba pengen pup? Eh, ini mau pup tapi kok mau ngejan? Saat itu sekitar pukul 10 pagi. Aku melompat dari ranjang dan langsung ke ruang bersalin meminta Bu Bidan yang sedang jaga sendirian untuk cek bukaan sekarang. Bu Bidan awalnya menjadwalkan cek bukaan jam 12 siang nanti. Tapi aku yakin ini bukaan udah besar, karena aku mau ngejan! Akhirnya aku kembali dicek bukaan… dan…. bukaan 8! Masyaa Allah, tabarakallah.. Nak, kita sebentar lagi bertemu :”)

Saat itu aku tetap tinggal di ruang bersalin yang belum disiapkan apapun. Bu Bidan yang langsung gesit menelpon dokter Arina, memanggil perangkat-perangkat yang harus ada saat persalinan, menyiapkan alat-alat persalinan yang tiba-tiba cringgg ada di hadapan, sedangkan aku…masih berjuang mengatur nafas, rasa mau mengejan sangat besar, tapi sangat dilarang, tidak boleh sama sekali membiarkan diri mengejar karena semua alat masih disiapkan, dokter juga belum datang. Alhamdulillah dianugerahi suami kooperatif, di sini dia maksimal banget ikut bernafas-sampai keringetan dan ngos-ngosan. Wkwk Baarakallah, suamiku.

Saat dokter Arina datang, semua sudah siap, akhirnya aku diarahkan untuk mengatur posisi mengejan. Di saat ini juga, aku melihat dokter Arina sungguh menenangkan sambil memotivasi- tapi sempat-sempatnya briefing aku cara mengejan yang benar. Di saat aku benar-benar kewalahan menahan kontraksi bukaan lengkap.

***

Alhamdulillah, proses mengejan lancar dan cepat, aku mendapat kekuatan mengejan yang besar berkat kurma yang ku makan di sela-sela kontraksi. Jadi gak perlu lama-lama mengejannya, Kabay sudah keluar, alhamdulillah.

Setelahnya ku mendengar tangisan Kabay untuk pertama kalinya. Paksu memelukku dan berkata, “cilboc kita sudah lahiiir”, dan Mamah-ku, yang menunggu di luar ruangan bersalin, ikut menangis mendengar sapa tangis cucunya pertama kali. Aku dalam kondisi berbaring legaaaa, penuh syukur, karena tangisan dia adalah anugerah terbesar di hari ini, bahkan aku kira aku akan menangis, tapi saking speechlessnya, momen sentimental itu aku lewati dengan memejamkan mata dan banyak-banyak mengucap terima kasih kepada Allah. Alhamdulillaah… alhamdulillaah…Alhamdulillaah…

Saat IMD berlangsung, aku melihat mata Kabay sudah terbuka, walaupun dia belum bisa melihat jelas, tapi aku langsung jatuh cinta sama kedua matanya! Anakku, selamat datang di dunia :’)

***

Begitulah kisah perjalanan kehamilan dan kelahiran putra pertamaku. Aku semakin sadar, setiap fase kehidupan, apapun tantangannya, bagaimanapun masalahnya, ketergantungan kepada Allah tetap menjadi solusi utama. Tawakkal kita, sabar kita, syukur kita, adalah aspek-aspek yang selalu dibutuhkan. Dari mulai fase persiapan pernikahan, fase penantian positif hamil, fase kesulitan saat hamil, hingga fase melahirkan anak, pun- menjadikan aku semakin yakin, bahwa Allah, satu-satunya tempat meminta pertolongan.

Keterangan:

*Nakes: Tenaga Kesehatan
*Cilboc: Kecil Bocah
*Paksu: Pak Suami